Bekerja sebagai advokat

 

Dapat pula dijumpai di Lekvori.com

 

Menjadi seorang advokat bukanlah cita-cita saya, tetapi merupakan jalan takdir hidup yang terjadi begitu saja. Sewaktu saya masih anak-anak, ibuku bercita-cita agar aku menjadi seorang buruh penggembala (pangon) sapi yang nantinya akan mendapatkan upah sapi yang akan dapat dikembangkan untuk menjadi bekal hidup berumah tangga, bisa untuk membeli sawah. 

Saya dilahirkan di sebuah dusun di tengah hutan jati bernama Dusun Banggle di wilayah Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk.

Seperti anak-anak lainnya hidup di dusun yang miskin dan dipenuhi penduduknya yang buta huruf, menjalani masa anak-anak yang bergelut dengan pekerjaan sehari-hari di sawah, ladang, dan hutan, serta tidak pernah tahu apa itu hukum.

Hingga suatu saat setelah remaja yang hidup keluar meninggalkan rumah, menjadi lebih banyak mengetahui dunia yang lebih luas, terus bekerja sambil terus berusaha agar bisa melanjutkan pendidikan, tetapi tidak pernah berani menentukan cita-cita, karena keaadaan hidup yang sulit. 

Hingga suatu saat membatalkan niat masuk ke Fakultas Ekonomi Akuntansi, berbelok menuju Fakultas Hukum bukan sebagai hal yang terencana. Saya tentu tidak dapat leluasa merencanakan studi dan tidak bebas memilih jurusan ilmu, sebab yang menjadi kunci pemikiran saya adalah "fakultas mana yang bisa saya jangkau dengan uang saya yang terbatas." Oleh karena fakultas hukum di universitas yang saya tuju (di Universitas Surabaya) menyediakan bantuan biaya pendidikan (ada subsidi) bagi orang miskin seperti saya, maka ke situlah saya putuskan memasukinya. Jadi, tentu saja negara tidak membiayai studi saya di perguruan tinggi, melainkan saya berusaha sendiri dan dibantu oleh subsidi partikelir (sekitar separoh dari SPP yang harus saya bayarkan). Saya mencari uang dengan menjadi buruh operator produksi lampu listrik di Philips.

Tahun 1997, setelah melalui perjuangan yang berat untuk membiayai hidup sendiri dan membiayai pendidikan sendiri serta membantu ekonomi orang tua, saya dapat menyelesaikan studi di fakultas hukum. Saya menempuh kuliah dengan sangat tergesa-gesa, selama 7 semester, sebab terasa sangat berat kuliah sambil bekerja yang lebih banyak saya memilih jam-jam kerja malam (jam 22.00 - 07.30 WIB) agar pagi dan siangnya bisa kuliah. 

Setelah gagal dalam berusaha melamar pekerjaan menjadi guru di sekolah-sekolah SD, SMP dan SMA swasta, maka tahun 1998 saya mencoba-coba mengikuti ujian Pengacara Praktek yang diselenggarakan Pengadilan Tinggi Jawa Timur di Surabaya. Ternyata lulus dan dilantik menjadi Pengacara. Namun, barulah di tahun 2000 saya benar-benar menekuni pekerjaan sebagai pengacara, karena rupanya jalan hidup memaksa dan mengarahkan saya ke dalam pekerjaan itu. Tahun 2010 saya mencoba melanjutkan studi ilmu hukum dan tahun 2012 saya menyelesaikan pendidikan Magister Hukum. 

Selama sekitar 19 tahun saya bekerja menjadi pengacara / advokat, sebuah jalan yang dipilihkan oleh Tuhan, bukan jalan yang menjadi keinginan dan cita-cita saya sendiri. Ibuku almarhumah telah memaklumi itu, bahwa saya tidak dapat mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang pangon sapi dan agar selanjutnya menjadi seorang petani yang mempunyai sawah sendiri. Meskipun ibuku lebih benar, tetapi ibuku sendiri yang telah mencegahku agar aku tidak kembali ke Pulau Buton untuk bertani di tahun 2000. Ibuku almarhumah telah menyetujuiku bekerja sebagai advokat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tentang saya